Banyak umat Islam mengenal Rasulullah SAW sebagai nabi yang mulia dan pemimpin umat, namun tidak banyak yang mengetahui kisah sunyi beliau bersama ibundanya, Sayyidah Aminah binti Wahb. Kisah ini menyimpan pelajaran mendalam tentang cinta, kehilangan, dan keteguhan iman sejak usia dini.
Ketika Rasulullah SAW berusia sekitar enam tahun, Sayyidah Aminah mengajak beliau melakukan perjalanan dari Makkah menuju Madinah. Tujuan perjalanan ini adalah untuk menziarahi makam ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang wafat sebelum Rasulullah dilahirkan.
Perjalanan tersebut dilakukan bersama pengasuh setia mereka, Ummu Ayman. Tidak ada yang menyangka bahwa perjalanan penuh kasih itu akan menjadi perpisahan terakhir antara seorang ibu dan anaknya.
Dalam perjalanan kembali ke Makkah, tepatnya di sebuah tempat bernama Abwa, Sayyidah Aminah jatuh sakit dan wafat. Rasulullah SAW yang masih kecil harus menerima kenyataan pahit kehilangan ibunda tercinta di usia yang sangat muda.
Beliau kemudian kembali ke Makkah dalam asuhan Ummu Ayman, membawa duka mendalam yang kelak membentuk kelembutan dan empati luar biasa dalam kepribadian Rasulullah SAW.
Salah satu kisah yang jarang diketahui adalah ketika Rasulullah SAW, di masa kenabiannya, menziarahi makam ibunya di Abwa. Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW menangis tersedu-sedu hingga membuat para sahabat ikut menangis.
Tangisan itu bukan hanya karena kehilangan, tetapi juga sebagai bentuk kasih sayang seorang anak kepada ibunya, yang tidak pernah hilang meskipun telah terpisah oleh waktu dan kematian.
Kehilangan kedua orang tua sejak kecil menjadikan Rasulullah SAW tumbuh sebagai pribadi yang sangat peka terhadap anak yatim, kaum lemah, dan mereka yang kehilangan figur keluarga.
Tidak heran jika Rasulullah SAW sangat menekankan perlindungan terhadap yatim, bahkan menjanjikan kedekatan dengan beliau di surga bagi orang-orang yang memuliakan dan merawat anak yatim.
Meskipun waktu kebersamaan Rasulullah SAW dengan ibunya sangat singkat, nilai kasih sayang itu tertanam kuat dan membentuk karakter beliau sebagai nabi yang penuh rahmat dan kelembutan.