Di antara para sahabat Nabi Muhammad SAW, nama Sa’ad bin Abi Waqqash dikenal sebagai salah satu pemanah terbaik dalam sejarah Islam. Ia memiliki keteguhan hati, keberanian luar biasa, dan doa yang mustajab. Kisah perjuangannya dalam Perang Badar menjadi teladan tentang iman, keberanian, dan tawakal kepada Allah SWT.
Sa’ad bin Abi Waqqash masuk Islam pada usia muda, sekitar 17 tahun. Ia termasuk kelompok awal sahabat yang menyatakan keimanan setelah dakwah Nabi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Keteguhan imannya diuji ketika ibunya menolak makan karena ingin Sa’ad meninggalkan Islam.
Namun Sa’ad berkata dengan penuh ketegasan: “Wahai ibu, seandainya engkau memiliki seratus nyawa lalu satu per satu melayang, aku tetap tidak akan meninggalkan agama ini.” Ketegasannya ini kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an (QS. Luqman: 14–15).
Dalam Perang Badar, Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi salah satu pemanah utama pasukan kaum muslimin. Ia adalah sahabat pertama yang menembakkan panah membela Islam dalam sejarah. Panah-panahnya selalu tepat sasaran, memberikan keunggulan strategis besar dalam pertempuran.
Nabi Muhammad SAW bahkan memberikan doa khusus kepada Sa’ad. Dalam sebuah riwayat shahih, Rasulullah SAW bersabda:
“Ya Allah, tepatkanlah tembakan panahnya dan kabulkanlah doanya.” (HR. At-Tirmidzi)
Sejak mendapat doa tersebut, Sa’ad dikenal sebagai sahabat yang doanya mustajab. Para ulama mengatakan bahwa seseorang harus berhati-hati menyakitinya karena doa Sa’ad sangat cepat dikabulkan oleh Allah.
Di masa kekhilafahan Umar bin Khattab, Sa’ad diangkat sebagai panglima besar dalam Perang Qadisiyyah melawan Persia. Di bawah kepemimpinannya, pasukan muslim meraih kemenangan besar dan menaklukkan wilayah penting dalam sejarah Islam.
Meski menjadi panglima besar, Sa’ad tetap hidup dalam kesederhanaan. Beliau tidak pernah menjadikan jabatan sebagai sarana untuk memperkaya diri. Ketakwaan dan tawakalnya kepada Allah selalu menjadi ciri utama perilakunya.